Advertisement

Responsive Advertisement

Kurangi Pengangguran Terdidik dengan Pendidikan Wirausaha

Kurangi Pengangguran Terdidik dengan Pendidikan Wirausaha
Kamis, 13 September 2012 | 9:30
Menakertrans Muhaimin Iskandar  didampingi Dirjen Binapenta Kemnakertrans Reyna Usman dan pemilik tambak yang sukses, Muhammad Yusuf (kanan-baju merah) meninjau tambak Ikan nila milik Muhammad Yusuf hasil pendampingan Tenaga Kerja Sarjana (TKS) di Subang Jawa Barat pada Rabu (12/9).
Menakertrans Muhaimin Iskandar didampingi Dirjen Binapenta Kemnakertrans Reyna Usman dan pemilik tambak yang sukses, Muhammad Yusuf (kanan-baju merah) meninjau tambak Ikan nila milik Muhammad Yusuf hasil pendampingan Tenaga Kerja Sarjana (TKS) di Subang Jawa Barat pada Rabu (12/9).
"Kemauan, keberanian, dan kejujuran, membuat saya seperti ini”. Kata-kata itu keluar dari mulut, Muhammad Yusuf (32 tahun), ketika ditemui SP di tambak (kolam) ikannya di kampung Cijambe RT 02 RW O1 Desa Cijambe, Kecamatan Cijambe, Kabupaten Subang, Jawa Barat,  Rabu (12/9).

Anak yatim, sulung dari dua bersaudara ini mengaku pusing setelah lulus belajar Ilmu Internasional dari Universitas Pasundan Bandung ini tahun 2003.

Ia melamar ke berbagai perusahaan dan instansi pemerintah, tak satu pun yang menerima. Namun kini, bapak satu anak ini memiliki tiga profesi sekaligus, yakni pendamping kelompok usaha masyarakat, analis kredit pada salah satu bank swasta nasional di Subang dan wirausaha budidaya perikanan.

Dari usaha budidaya ikan dari 15 kolamnya ia memperoleh keuntungan per bulan sekitar Rp 20 juta. Yusuf mengisahkan, setelah hampir lama hidup menganggur setelah lulus kuliah, ia bekerja sebagai kuli ikan. Ia mengambil ikan dari tambak-tambak orang dan mengantar kepada para pelanggan tambak-tambah itu.

"Hidup sebagai kuli ikan pendapatan sebulan Rp 600.000," kata dia. Setelah setahun sebagai kuli ikan, suami dari Sani (30 tahun) ini, pada tahun 2007, melamar ke Dinas Tenaga dan Transmigrasi Kabupaten Subang untuk mengikuti Program Tenaga Kerja Pemuda Mandiri Profesional (PTKMP). 

Dari ratusan orang melamar masuk ke program tersebut, hanya 20 orang diterima termasuk Yusuf. PTKMP merupakan program Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi yang bertujuan menjaring minat dan potensi kaum muda dalam kegiatan kewirausahaan.

Dalam program tersebut, para pemuda yang terpilih diberikan pelatihan dan pendidikan usaha serta selanjutnya dibekali bantuan sarana usaha sebagai stimulan untuk memulai usaha. Pada saat mengikuti program TKPMP ini,Yusuf banyak mendapatkan wawasan dan pengalaman baru, khususnya pada saat mengikuti pembekalan dan pelatihan.

Materi-materi yang disampaikan narasumber mampu membongkar mindset-nya yang selama ini salah menilai bahwa yang dikatakan bekerja adalah bekerja kantoran menjadi pegawai swasta atau PNS sebagaimana anggapan sebagian masyarakat pada umumnya.

Yusuf mengatakan, sumber kegagalan para wirausahawan pemula adalah pikiran yang rumit dan rasa takut. Pikiran yang rumit kadangkala menyebabkan orang menjadi ragu karena terlampau mempertimbangkan banyak hal, seperti resiko dan kegagalan yang pada akhirnya justru akan menyurutkan semangat dan kreatifitas.

Yusuf sadar, banyak sekali potensi alam di sekitar tempat tinggalnya yang bisa dimanfaatkan menjadi peluang usaha. Desa Cijambe, Subang yang ia tinggali selama ini merupakan desa subur berkontur perbukitan yang mengalir air deras ke bawah.

Sumber air ini pula yang dimanfaatkan sebagian besar warga untuk kegiatan pertanian dan perikanan. Alhasil, Yusuf semakin yakin usahanya mengajukan proposal budidaya ikan air tawar merupakan pilihan yang tepat.

Apalagi budidaya perikanan bukanlah pekerjaan yang asing baginya. Tak lama kemudian, proposal usahanya disetujui, Kementerian Tenaga Kerja melalui Disnaker Kabupaten Subang memberikan bantuan sarana usaha berupa timbangan, tong besar gas dan jaring.

Berbekal alat-alat tersebut, Yusuf memulai usaha sebagai pemasar dan sekaligus pembudidaya ikan mas dan nila dengan mengontrak pada kolam-kolam milik tetangganya. 

Sedikit-sedikit demi sedikit ia pun mulai merasakan hasil jerih payahnya. Pengalaman berikutnya yang kelak menentukan keberhasilan Yusuf adalah pada saat ia terpilih menjadi salah seorang pendamping kelompok usaha dalam Program Pendayagunaan Tenaga Kerja Sarjana (PPTKS) pada tahun 2010.

Oleh Pembina Disnaker Kabupaten Subang, diikutkan dalam program pendayagunaan tenaga kerja sarjana (PPTKS)yang bertugas mendampingi kelompok usaha perikanan. Kesempatan menjadi pendamping ini tak disia-siakan untuk meningkatkan keterampilannya.

Kemampuan teknis Yusuf justru menjadi terasah ketika belajar dari para petani di lapangan. Untuk memperkuat kelompok binaanya, Yusuf menghimpun para anggota dalam Usaha Dagang (UD) Djati Mandiri yang tidak lain merupakan badan usaha miliknya, meningkatkan skill anggota melalui pelatihan-pelatihan, pendampingan rutin dan konsultasi.

Hasilnya, anggota kelompoknya kini mulai mengenal manajemen usaha dan pengelolaan keuangan yang baik. Usaha yang dijalankan para petani semakin memberikan hasil yang maksimal karena petani semakin bergairah menjalankan usahanya.

Penguasaan Pasar

Ketika usaha kelompok binaan sudah berjalan dan memulai memasuki masa panen, pekerjaan pendamping selanjutnya adalah bagaimana memikirkan hasil panen ke pasar. Menurut Yusuf, ini bukanlah perkara yang mudah.

Namun lagi-lagi, pengamalannya pernah menjadi tukang pikul ternyata menjadikannya mampu memahami dan menguasai pasar. Tidak terlalu sulit bagi Yusuf untuk memasarkan hasil panen petani binaan ke pasar-pasar di sekitar desanya.

Tapi masalah muncul ketika hasil panen kian meningkat melebihi permintaan pasar di desanya. Khawatir hasil panen petani binannya tidak laku, Yusuf mulai berpikir keras untuk mencarikan solusi pemasaran.

Berbekal informasi dan rekomendasi dari pembinanya, Yusuf mulai membangun relasi dengan pengusaha-pengusaha pemancingan dan rumah makan di sekitar Bandung, Purwakarta, Bekasi dan Jakarta.

Permintaan konsumen semakin meningkat, satu ton, dua ton hingga enam ton per-bulan. Sampai-sampai, jika permintaan konsumen sedang tinggi, sedangkan stok habis, maka ia dan kelompoknya terpaksa mencari ke petani lain.

Berburu Modal Usaha


Untuk meningkatkan usahanya dan kelompok binaannya Yusuf  dan kelompok usahanya bekerja sama dengan satu bank swasta nasional.

Kalau kurang modal mereka mengajukan pinjaman ke bank tersebut, dengan catatan minimal pinjamam Rp 100 juta dengan bunga 1,16 persen bulan selama lima tahun. Yusuf masih ingat pinjaman pertama yang disetujui sebesar 500 juta rupiah.

Yusuf mengatakan, kata kunci dari keberhasilan yang ia raih selama ini adalah kepercayaan, baik dari petani binaan, konsumen dan perbankan. Upaya membangun kepercayaan ia wujudkan dengan memberikan sikap jujur dan pelayanan yang terbaik kepada semua pihak. Kepada petani, ia selalu transparan dalam hal pengelolaan keuangan.

Keuntungan yang mereka terima selalu utuh tanpa potongan-potongan. Namun sebaliknya jika ada masalah apa pun ia selalu berbagi informasi kepada mereka.

Kepada para konsumen, Yusuf selalu mengirimkan ikan dengan kualitas yang baik. Sedangkan kepada pihak perbankan, Yusuf membangun kepercayaan dengan cara mengembalian pinjaman petani binaan tepat waktu. 

Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Muhaimin Iskandar, mengatakan, Yusuf adalah satu dari 3.800 sarjana yang sudah dididik menjadi wirasuaha saat ini.

“Mereka sebelumnya menganggur kini menjadi wirausaha. Orang seperti Yusuf ini patut ditiru,” kata dia.

Muhaimin mengatakan, anggaran untuk melatih dan mendidik sarjana yang menganggur ini dalam tahun 2013 akan dinaikkan. Namun, ia enggan dinaikkan berapa, dan anggaran untuk itu tahun 2012, Muhaimin juga menjawab tidak hafal.

“Yang pasti kita berusaha mengurangi jumlah pengangguran terutama penganggur terdidik,” lata dia.

Berdasarkan data BPS, pada Februari 2012, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) untuk tingkat pendidikan Diploma dan Sarjana masing-masing 7,5 persen dan 6,95 persen. 

TPT pendidikan menengah masih tetap menempati posisi tertinggi, yaitu TPT Sekolah Menengah Atas sebesar 10,34 persen dan TPT Sekolah Menengah Kejuruan sebesar 9,51 persen.

Jumlah pengangguran secara nasional pada Februari 2012 mencapai 7,6 juta orang, dengan TPT Februari 2012 sebesar 6,32 persen turun dari TPT Februari 2011 sebesar 6,80 persen. [SP/Siprianus Edi Hardum]

SEARCH...

Postingan terbaru